Kelas Ascidian
Nama : Rizky Amalya Putri
Nim : A1C415039
KELAS ASCIDIAN
Ascidian termasuk fillum Chordata subfillum Urochordata
yang merupakan hewan bertubuh lunak yang hidup secara sesil (menempel) dengan
mekanisme pertahanan tubuh. Urochordata sering juga disebut sebagai tunikata
atau sea squirts. Menurut OEF (2010: 2-3) dalam Elwiena (2011: 1) menyatakan
bahwa ascidian merupakan sebutan umum untuk spesies-spesies yang termasuk kedalam
Kelas Ascidiacea. Ascidian adalah hewan laut yang termasuk ke dalam Filum
Chordata, yaitu filum yang beranggotakan hewan-hewan yang memiliki notokorda
pada salah satu stadium dalam siklus hidupnya. Notokorda pada larva ascidian
menghilang ketika larva berkembang menjadi individu dewasa yang secara umum
bersifat sesil dan berbentuk seperti kantong atau tabung dengan dua bukaan
yaitu sifon oral dan lubang pengeluaran.
Ascidian merupakan salah satu biota laut
yang belum mendapat perhatian yang serius, namun punya potensi cukup besar di
perairan Indonesia. Biota yang termasuk dalam kelompok Chordata ini mendiami
hampir seluruh perairan di dunia, daerah tropik, temperate, kutub dan bahkan
masih ditemukan pada kedalaman laut dalam. Di Indonesia habitat ascidian
ditemukan hampir di semua lokasi dalam perairan, mulai dari terumbu karang,
dasar berpasir dan berlumpur, menempeli hampir semua konstruksi bangunan dalam
air (dermaga, konstruksi budidaya ikan dan lain sebagainya). Di Indonesia
penelitian tentang sistematika dan keragamannya belum pernah dilakukan dan
bahkan belum ada peneliti yang meliriknya. Beberapa jenis memperlihatkan
kemampuan hidup berasosiasi dengan biota laut lain seperti lamun, karang,
karang lunak dan bahkan pada biota laut yang bergerak seperti bulu babi (sea
urchin) (Muh Fikhruddin, 2013: 2-9).
Menurut
Maniot dan Labonte (1991) dalam Muh Fikruddin (2013: 11) Tubuh Ascidian dewasa
sangat sederhana seperti tabung silindris dengan rongga besar di dalamnya
disebut Branchial Sac. Bagian mulut tempat air masuk melalui saluran disebut
exhalant siphon kemudian dilanjutkan oleh saluran pendek seperti kerongkongan
sebelum sampai ke rongga tubuh. Hasil pencemaan berupa material yang tidak
terpakai serta saluran reproduksi dikeluarkan melalui exhalant siphon. Organ
dalam terdiri dari usus sederhana, lambung, dan organ reproduksi seperti testis
lobe dan ovary. Pada ascidian ada hermaproditsme protogyni. Ovarium dan testis
berlekatan dikelilingi oleh intestinum. Ascidian dewasa menempel pada substrat
pada bagian jaringan yang disebut dengan rhizoid atau villi.
Bagi umumnya ascidian yang hidup
berkelompok, telur banyak mengandung kuning telur, fertilisasi terjadi didalam
tubuh, embrio berkembang sampai larva di dalam tubuh, dimana larva juga
dilepaskan ke kolom perairan. Larva akan berada di kolom perairan diperkirakan
sampai 36 jam, bahkan ada dua jenis ascidian yang memiliki larva dan berada
dikolom perairan untuk beberpa menit, kemudian turun ke dasar untuk menempel
pada substrat kesukaannya. Larva ascidian dikenal dengan nama todpole (Meidy
Ompi, 2016: 59-60).
Deskripsi dan Klasifikasi Ascidian Didemnum molle
Ascidian have also been
shown to be a rich source of cyclic peptida. Didemnum molle a small, 1-5 cm in
height, white-greenish, vase-like
ascidian, is quite common in deep water of many reefs. This ascidian is
green inside due to symbiotic prokaryotic unicellular algae, a symbiosis which
might be reponsible for the differences of secondary metaboltes obtained from
animals collectd in divergent locati (Ponnadurai
Ramasami, 2013: 30).
Ascidian juga telah terbukti menjadi sumber yang
kaya peptida siklik. Didemnum molle
kecil, mempunyai ukuran 1-5 cm, putih kehijauan, seperti fase ascidian, umumnya
berada di air terdapat banyak di terumbu karang. Ascidian ini berwarna hijau
didalam, karena simbiosis alga uniseluler prokariotik, simbiosi yang miungkin
bertanggung jawab atas perbedaan metaboltes sekundr yang diperoleh dari hewan
di lokasi yang berbeda (Ponnadurai Ramasami, 2013: 30).
Menurut Ayu Ginanjar, dkk (2013: 6) Secara umum,
ascidian dijumpai pada terumbu karang, baik yang masih hidup maupun yang sudah
mati, sedangkan pada substrat pasir, lumpur, dan patahan karang keragamannya
berkurang dan hanya ditempati oleh jenis-jenis ascidian tertentu, dalam (Monniot et al., 1991; Colin dan
Arneson, 1995). Salah satu jenis ascidian yang mendominasi perairan Kepulauan
Seribu adalah Didemnum molle (Setyawan et al., 2011). Berikut ini
adalah sistem klasifikasi Didemnum molle dalam (Monniot et al., 1991):
Filum
: Chordata
Subfilum
: Urochordata
Kelas
: Ascidiacea
Ordo
: Aplousobranchiata
Famili
: Didemnidae
Genus
: Didemnum
Spesies
: Didemnum molle
Menurut Allen
(1996) dalam Ayu Ginanjar S, dkk
(2013: 6) Didemnum molle merupakan
salah satu ascidian lunak yang paling sering muncul dan berada di dalam
ekosistem terumbu karang, berbentuk membulat tampak seperti individu soliter
pada pandangan sekilas, tetapi biota tersebut berkoloni yang tersusun oleh zooid
yang sangat kecil tertanam dalam substrat. Warna dari biota ini umumnya
hijau yang disebabkan oleh alga simbion yang ada pada tubuhnya.
Habitat Didemnum
sp. tersebar diseluruh perairan
Indo-Pasifik (termasuk Indonesia) dan dapat ditemukan pada kedalaman 1-20
meter. Didemnum sp. memiliki bentuk
seperti kendi yang terbaik dan warna yang bervariasi dari putih, jingga, hingga
hijau terang. Spesies tersebut memiliki mulut berupa sifon oral dengan diameter
3-10 cm. Didemnum sp. sering
ditemukan hidup berkoloni pada berbagai permukaan substrat seperti terumbu,
batu, pasir, hingga logam pada dermaga atau kapal. Masing-masing koloni Didemnum sp. Terdiri atas
individu-individu yang disebut zooid. Setiap zooid memompaair laut melalui
sifon oral ke seluruh tubuh untuk menyaring partikel-partikel makanan dan
mengeluarkan air serta sisa metabolisme melalui sifon-sifon kecil yang terdapat
diseluruh permukaan tubuhnya. Didemnum
sp. mampu hidup pada suhu -5ºC sampai 30ºC (Elwiena, 2011: 7).
Secara umum siklus hidup hewan ini terdiri
dari dua fase yaitu fase larva dan fase dewasa. Fase larva diawali dengan
terjadinya pembuahan sel kelamin, kemudian mengalami beberapa kali pembelahan
dan akhirnya berkembang menjadi larva berenang bebas yang disebut dengan
tadpole larva. Bentuk tubuh larva terdiri dari dua bagian besar yaitu batang
tubuh dan ekor dengan tubuh ditutupi oleh lapisan lembut disebut juga tunic. Reproduksi
tunic cukup rumit dan bervariasi. Proses reproduksi dibagi atas dua tipe yaitu
reproduksi aseksual dan reproduksi seksual. Reproduksi secara aseksual terjadi
melalui pertunasan dan fragmentasi. Sedangkan reproduksi seksual terjadi oleh
pembuahan sel kelamin (telur dan sperma) yang berkembang menjadi larva tadpole
dan berenang bebas, kemudian menempel pada substrat dan berkembang menjadi
ascidian dewasa. Ascidian koloni menghasilkan tunas (aseksual) untuk menambah
anggota dalam koloni yang dikenal sebagai Ascidiozooid, sedangkan penambahan
generasi secara seksual diawali dengan pembuahan sel kelamin, berkembang
menjadi larva disebut tadpole yang beberapa saat berenang bebas, kemudian
menempel pada substrat keras. Setelah mengalami beberapa kali perubahan
(metamorfosa) berkembang menjadi ascidian dewasa (Muh Fikruddin, 2013 :14).
Pola
pembentukan embrio pada Didemnum molle
Pada
Didemnum molle tipe pembelahan embrio
adalah holoblastik yaitu blastomer memisah secara sempurna. Pola pembelahannya
adalah radial.
a. Penyibakan,
secara umum perkembangan protostom diawali dengan penyibakan determinan yang
spiral. Perkembangan deutrosom di cirikan oleh penyibakan interminat yang
radial
b. Pembentukan
selom, dimulai dengan tahan gastrula. Dalam perkembangan protosom, selom terbentuk
dari pemisahan didalam mesoderm. Pada perkembangan destrosom, selom terbentuk
dari penggembungan mesodermal arkenterol.
c. Nasib
blastropor, dalam perkembangan protosom, mulut terbentuk dari blastropor. Dalam
perkembangan deuterostrom, mulut terbentuk dari bukaan sekunder (Campbell,
2008: 231).
DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil A. 2008. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 2. Jakarta:
Erlangga.
Fikrudin, Muh. 2013. Distribusi Dan Keanekaragaman Tunikata
(Ascideaceae) Pada Kondisi Perairan Yang Berbeda di Pulau Badi, Bone Batang Dan
Lae-Lae. Makasar: Universitas Hasanuddin.
Ginanjar , Ayu, dkk. 2013. Eksplorasi Komponen Bioaktif Hewan bentuk
ascidian (Didemnum molle) sebagai antioksidant alami. Bogor: Institut
pertanian bogor.
Maulida, Elwina. 2011. Uji Antifeedant Ekstrak Kasar Ascidian(
Didemnum sp.) Terhadap Ikana karang Di Perairan Pulau Pramuka Kepulauan Seribu
DKI Jakarta. Jakarta: Universitas
Indonesia.
Ompi, Meidy. 2016. Larva Arvetebrata Dasar Laut: Ekologi Dan
Tingkah Laku Larva. Yogyakarta:
Deepublish.
Ramasami, Ponnadurai. 2016. Crystallizing Ideals/ The Rule Of Chemistry.
Muritius: University Of Mauritius.
Komentar
Posting Komentar